Bantengan
Deskripsi
Kesenian Bantengan di Desa Jedong telah berkembang sejak dahulu dan masih menjadi salah satu kesenian yang hidup di masyarakat. Berdasarkan hasil wawancara, sejarah Bantengan di Jedong belum diketahui secara pasti. Informasi mengenai sejarahnya diperoleh dari cerita yang disampaikan oleh para pelaku kesenian Bantengan. Pada awal perkembangannya, Bantengan masih berkaitan dengan seni bela diri silat. Pertunjukan biasanya diawali dengan penampilan silat kemudian dilanjutkan dengan Bantengan. Pola tersebut hingga saat ini masih dipertahankan oleh kelompok Bantengan di Jedong.
Dalam cerita yang diperoleh dari para pelaku Bantengan, kesenian ini pada zaman dahulu dikaitkan dengan perjuangan. Pertunjukan silat dan Bantengan dipercaya digunakan untuk mengalihkan perhatian musuh. Hal tersebut kemudian menjadi salah satu cerita yang berkembang mengenai fungsi Bantengan pada masa dahulu. Namun, informasi tersebut merupakan cerita yang diperoleh dari sesama pelaku seni dan tidak disertai dengan sumber sejarah tertulis.
Bantengan memiliki beberapa karakter yang ditampilkan dalam pertunjukan, yaitu banteng, macan, dan monyet. Banteng menggambarkan sifat baik, sedangkan macan menggambarkan sifat buruk. Dalam pertunjukan, macan biasanya ditampilkan terlebih dahulu kemudian dilanjutkan dengan munculnya banteng yang kemudian berhadapan dan bertarung dengan macan. Sementara itu, monyet berfungsi sebagai penghibur dalam pertunjukan, meskipun saat ini karakter monyet sudah jarang digunakan.
Seiring berjalannya waktu, kesenian Bantengan di Desa Jedong mengalami perkembangan dan semakin dikenal oleh masyarakat. Bantengan di Jedong mulai ramai sekitar tahun 2017. Saat ini terdapat sekitar 13 kelompok Bantengan di Jedong. Beberapa kelompok yang dikenal oleh masyarakat antara lain Maheso Suryojoyo, Maheso Joyoutomo, dan Rojo Kebojerum. Masing-masing kelompok memiliki ciri dan kreativitas tersendiri dalam menampilkan pertunjukan Bantengan.
Dalam penyajiannya, Bantengan di Jedong memiliki dua bentuk penggunaan musik, yaitu menggunakan gamelan Jawa dan mrotoan. Mrotoan menggunakan alat musik yang lebih sederhana seperti angklung, kendang, dan jidor. Sementara itu, pertunjukan dengan gamelan menggunakan alat musik yang lebih lengkap dan dapat disertai dengan campursari. Penggunaan musik tersebut dapat disesuaikan dengan kebutuhan pertunjukan dan undangan yang diterima oleh kelompok Bantengan.
Kesenian Bantengan di Jedong juga memiliki nilai kebersamaan bagi masyarakat. Keberadaan Bantengan menjadi salah satu sarana yang mempertemukan masyarakat tanpa membedakan status. Menurut narasumber, setelah mengikuti dunia seni, masyarakat dapat berkumpul dan berinteraksi bersama. Keterlibatan generasi muda dalam Bantengan juga semakin berkembang. Narasumber menyebutkan bahwa hampir 50% anak muda di kampungnya mengikuti Bantengan dan keterlibatan tersebut semakin ramai dalam beberapa waktu terakhir.
Selain itu, masyarakat pelaku seni di Jedong berupaya mempertahankan bentuk Bantengan yang menggunakan gamelan. Hal tersebut terlihat dari adanya penolakan terhadap penggunaan sound horek dalam pertunjukan Bantengan di wilayah Jedong. Menurut narasumber, penolakan tersebut dilakukan oleh pelaku seni karena penggunaan sound horek dianggap berbeda dengan kesenian yang diwariskan oleh leluhur. Dengan demikian, keberadaan Bantengan di Jedong tidak hanya menjadi hiburan masyarakat, tetapi juga menjadi bagian dari upaya masyarakat dalam mempertahankan kesenian yang telah berkembang di wilayah tersebut.
Referensi
Wawancara dan Dokumentasi Asli
Koreksi Kami
Temukan informasi yang perlu diperbaiki? Kirim masukan kepada arsiparis.
