Sejarah Desa Toyomarto
Deskripsi
Desa Toyomarto dipercaya sudah ada sejak kerjanaan singhasari. Letak nya yang berada di kaki gunung arjuna menjaidkan mata pencahariannya sebagai petani. Pada saat penjajahan belanda, seluruh warga menyimpan hasil bumi dengan cara di kubur di tanah, sehingga tidak diambil oleh belanda. Melalui peta peninggalan belanda, ditemukan bahwa pada zaman dahulu, desa toyomarto bukan menjadi bagian dari kecamatan singosari, Namun masih di wilayah Dali.
Dalam Kitab Negarakertagama pupuh 35 ayat ke-4 dijelaskan mengenai perjalanan hayam wuruk ( Nawa Tirta) ke desa toyomarto, yaitu untuk bersinggah Kasurangganan (Taman surga) yang di kawasan candi sumberawan. Candi sumberawan adalah salah satu candi yang berdiri di atas air, dan disekelilingnya terdapat 3 sumber mata air yang dipercaya berkhasiat. Pada dusun toyomarto juga ada arca nandi, dipercaya dibuat sebelum kerajaan singhasari. Patung tersebut hanya berupa badan saja, dan dipercaya bahwa patung tersebut telah dipenggal kepalanya.
Sebelum dinamakan desa toyomarto, desa ini terdiri dari 3 desa, yaitu ngujungm sumberawan, bodean. Kepala desa masing masing yaitu Mbah Umar sebagai kepala desa Bodenam, Desa Ngujung dengan kepala desa Ki Buyut Poninten yang dilanjutkan Ki Buyut Manab, dan sumberawan yang dipimpin ki buyut saleko. Pada penjajahan belanda ki buyut Saleko digantikan oleh mbah buyut Tosari, yang menyatukan ketiga desa tersebut hingga menjadi Toyo Marto, yang diperkirakan pada tahun 1930-an.
Pada setiap dusun pada desa toyomarto, memiliki sejarahnya masing-masing. Desa Toyomarto terdiri dari 7 dusun yaitu :
Dusun Ngujung : Terdapat lumpang yang digunakan untuk selamatan lumbung desa yang dilakukan pada zaman nenek moyang.. Lumpang tersebut terdapat ukiran melati yang melambangkan Dewi Sri, sebagai lambang pertanian yang subur. Selain itu, dalam tradisi penanaman, terdapat tradisi lumpang ngenteng, yaitu dimana pengambilan air hujan pertama untuk kegiatan penanaman. Nama ini adalah peersimbolan “ nama desa tua”. Nama watak ngujung berada di utara sungai brantas, sedangkan watak kanuruhan sekarang sebagai kanjuruhan sekarang terdapat di selatan sungai brantas.
Dusun Petung Wulung, tokoh yang terkenal yaitu Buyut Kodok yang pada masa penjajahan belanda yang membuat peta dusun dengan cara melompat dan diduduki.
Dusun wonosari, memiliki kebunan Teh yang dulu di miliki oleh pemerintah belanda, sehingga saat ini masih terdapat peninggalan rumah dan benda- benda peninggalan Belanda
Dusun Glatik, terdapat tokoh Sadirah yang melakukan perjlaanan dan membuka perkampungan di desa toyomato dan memberikan nama glatik, sesuai dengan tempat asal beliau yaitu di desa glatik, pasuruan.
Referensi
Wawancara dan Dokumentasi Asli
Koreksi Kami
Temukan informasi yang perlu diperbaiki? Kirim masukan kepada arsiparis.
