01 — Tradisi dan ekspresi lisan

CERITA RAKYAT PAK JLOGRO

🏷 01MALANG1 📍 Malang 👤 -

Deskripsi

Dikisahkan Pak Jlogro adalah seorang pemecah batu yang sedang ada di tengah sungai. Kebetulan dia ketemu dengan satu batu yang sangat keras yang dia perlu, tenaga ekstra. Menggunakan palu. Tidak bisa pecah. Sampai kemudian kelelahan. Karena kelelahan Pak Jlogro beristirahat di tepi sungai, bersandar. Silir-silir kena angin. Dia ngantuk, terus tertidur dia. Di dalam tidur dia bermimpi. Karena tidurnya melamun, dia bermimpi,
“Kok sengsara sekali hidupku ini menjadi tukang mencari batu, hari ini aku ketemu batu yang sangat keras”.
Sementara itu di dalam mimpinya datanglah hujan deras. Hujan ini menggenangi dan membanjiri sehingga bisa melongsorkan atau menggeser si batu tadi. Dalam mimpi Pak Jlogro berangan angan, “andai aku bisa menjadi hujan, bisa mengalahkan batu yang keras tadi, ternyata batu tadi bisa bergeser, alangkah bahagianya diriku”. Maka dalam mimpinya Pak Jlogro berubah menjadi hujan. Setelah itu, dia merasa dirinya menjadi hujan yang sangat luar biasa, yang bisa mengalahkan batu. Hujan ini bergerak, sungai dikasih hujan, banjir, danau dikasih hujan, banjir. Sawah dikasih hujan, banjir. Kampung dikasih hujan, banjir. Sombong Pak Jlogro “aku hebat, menjadi hujan yang tak terkalahkan” Ternyata, hujan tadi ketika ada matahari muncul, hujannya kalah. Hujannya kalah, hujannya reda, dan Nampak matahari.
Pak Jlogro berpikir ketika dirinya menjadi hujan tadi, “Aduh, ternyata aku kalah sama matahari, andai aku jadi matahari”. Maka dalam mimpinya Pak Jlogro berubah menjadi matahari. Dengan sombongnya, karena sudah bisa mengalahkan hujan. Sungai di sinari matahari kering. Danau di sinari matahari kering. Sawah di sinari matahari kering. Pategalan peradangan di sinari matahari kering. Semua kering di sinari oleh matahari. Sombonglah Pak Jlogro, “Wah, akulah matahari yang tak terkalahkan”. Ternyata, datanglah mendung. Mendung ini menutup matahari. Matahari tidak terlihat, nggak nampak apa-apa. Maka Pak Jlogro yang berubah menjadi matahari tadi berpikir,
“Aduh, ternyata aku kalah sama mendung, Andai aku bisa menjadi mendung yang bisa mengalahkan matahari”.
Maka dalam mimpinya Pak Jlogro berubah menjadi mendung. ketika dia jadi mendung, tak lama kemudian datanglah angin. Angin yang begitu kencang memecahkan mendung. Mendung yang tadinya menutup matahari ternyata tergeser oleh angin. Pak Jlogro berpikir,
“andai aku jadi angin. Bisa mengalahkan mendung. Yang mengalahkan matahari”.
Berubah lagi menjadi angin. Ke barat dia tiup gunung, jadi angin puting beliung, Ke timur dia tiup kampung, rusak porak-porak, ke utara dia tiup, dan Angin menimbulkan masalah di mana-mana. Tetapi begitu angin ke tengah sungai dia menemukan batu, ditiuplah batu itu sedemikan kuatnya, si angin tidak bisa menggeser batu. Maka Pak Jlogro berpikir,
“Wah, aku masih kalah ini dengan batu itu. Andai aku bisa menjadi batu, dia mengalahkan angin yang luar biasa yang tadi”.
Maka dalam mimpinya Pak Jlogro berubah menjadi batu. Namun, ketika Pak Jlogro berubah menjadi batu. Nggak lama kemudian datanglah tukang cari batu. Dan dia melihat, “wah batu ini besar. Cocok sekali ini. Nah, kalau aku pecah bisa jadi banyak ini, cari duit”.
Maka dengan keteguhan hati pelan-pelan. Pukul, diantam dengan godam. Dijukit dengan linggis. Dipasang dan dipecah menggunakan alat tradisional seperti kapak, pecahlah batu tadi. Pak Jlogro akhirnya juga merasa, “aduh ternyata aku kalah juga sama tukang batu”. Di saat itulah Pak Jilogoro terbangun dari tidur dan termenung. Dia merasa ternyata. Apa-apa yang diaalami tadi di dalam mimpi. Membawa kesadaran bahwa ternyata memang. Yang terbaik ianya biarlah aku jadi tukang cari batu.
Narasumber mendapat cerita ini pertama kali tahun 1974, namun cerita ini sudah ada pada zaman kolonial Belanda
Penyebaran cerita : Menurut saya mungkin itu juga beredar di daerah Jawa. Tapi kalau saya berkeyakinan, asli dari Malang mungkin enggak ya. Tapi karena ada pengaruh mataraman tadi. Mungkin cerita itu terbawa. Kebetulan saya tinggal di daerah yang tidak jauh dari Hilir sungai. Makanya. Orang tua saya pun nenek saya pun menganggap nyambung ketika disampaikan
Makna : Pasal moral di balik semua kisah tadi adalah. Marilah kita berbahagia, marilah kita bersyukur dengan apa yang kita., Jalani. Dan yang kita lakukan. Tidak perlu terlalu ekstrim untuk menjadi. Lebih, namun mempunyai keinginan untuk menjadi hal yang lebih, lebih baik pikirkan lagi apa ini yang terbaik ?

Referensi

Dokumentasi dan Wawancara Asli

Koreksi Kami

Temukan informasi yang perlu diperbaiki? Kirim masukan kepada arsiparis.