Festival 1 Selo & Festival 12 Suro
Deskripsi
Festival 1 Selo merupakan kegiatan haul atau peringatan wafat Eyang Djoego dan Eyang Raden Mas Iman Soedjono di Pesarean Gunung Kawi. Peringatan haul ini dimulai sejak Eyang Djoego dan Eyang Raden Mas Iman Soedjono wafat. Tradisi tersebut muncul di lingkungan desa atau kampung. Peringatan kepada orang yang telah wafat juga dilakukan sejak awal setelah seseorang meninggal, yaitu 1 hari, 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1 tahun, 2 tahun, hingga 1000 hari. Setelah itu pada tahun-tahun berikutnya diperingati sebagai haul hingga sekarang.
Dalam pelaksanaan Festival 1 Selo, warga dan ahli waris di Pesarean Gunung Kawi melakukan ritual dengan membawa sesaji atau semacamnya dalam bentuk arak-arakan. Arak-arakan dimulai dari padepokan yang berjarak kurang lebih 300 meter dari lokasi makam. Dari padepokan tersebut para peserta membentuk iring-iringan menuju lokasi makam dengan membawa sesaji. Setelah sampai di lokasi makam dilanjutkan dengan pembacaan tahlil dan doa-doa. Dalam kegiatan arak-arakan, sesepuh yang memimpin adalah juru kunci, sedangkan kegiatan tahlil dipimpin oleh ustad setempat.
Festival 1 Selo memiliki nilai sebagai bentuk ungkapan rasa syukur para ahli waris dan masyarakat sekitar atas keberadaan makam Eyang Djoego dan Eyang Raden Mas Iman Soedjono. Keberadaan makam tersebut dianggap membawa berkah bagi masyarakat sekitar karena banyak pengunjung dari luar daerah hingga luar negeri yang datang berkunjung dan memberikan pemasukan bagi warga. Selain itu, melalui kegiatan haul masyarakat mendoakan Eyang Djoego dan Eyang Raden Mas Iman Soedjono agar diampuni segala dosanya dan diterima segala amalannya. Masyarakat yang bekerja di sekitar pesarean juga berharap selalu mendapatkan berkah dari Allah melalui doa kepada kedua eyang tersebut.
Haul Eyang Djoego dan Eyang Raden Mas Iman Soedjono sudah dilaksanakan sejak keduanya wafat. Pelaksanaan secara besar-besaran dengan iring-iringan dan membawa sesaji mulai dipraktikkan sejak sekitar tahun 1970-an. Kegiatan tersebut terutama dilakukan oleh juru kunci sepuh Haji Asim Terjo yang dibantu kedua putranya, yaitu Haji Raden Sukodoyono dan Haji Raden Suryo Widarjo, beserta istri-istri mereka dan warga sekitar. Penyebaran kegiatan haul ini khusus dilakukan di daerah tersebut.
Referensi
Wawancara dan dokumentasi asli
Koreksi Kami
Temukan informasi yang perlu diperbaiki? Kirim masukan kepada arsiparis.
