Museum Singhasari
Deskripsi
Festival Budaya Narashingramurti merupakan kegiatan yang ditujukan sebagai sarana edukasi kepada pelajar, meskipun tidak dibatasi untuk pengunjung umum. Secara segmentasi kegiatan ini ditujukan kepada pelajar mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Kegiatan festival juga didokumentasikan dalam bentuk reels Instagram dan foto. Materi yang diberikan berkaitan dengan budaya, fungsi museum, peran museum, serta pentingnya keberadaan museum. Melalui kegiatan tersebut Museum Singhasari juga berupaya menghilangkan stigma masyarakat yang menganggap museum sebagai rumah hantu atau hanya sebagai gudang peninggalan artefak.
Dalam memberikan pembelajaran sejarah, Museum Singhasari menggunakan dongeng sebagai salah satu metode ilmu kesejarahan karena pembelajaran sejarah dianggap akan membosankan apabila tidak disampaikan dengan cara yang menarik. Museum berupaya memberikan pembelajaran yang berbeda dengan sekolah, yaitu tidak bersifat hafalan dan tidak ditujukan untuk menghadapi ujian. Pengunjung dapat mempelajari sejarah secara khusus melalui dongeng. Untuk pengunjung usia SMP, SMA, dan perguruan tinggi diberikan pengetahuan mengenai cerita dari artefak yang dimiliki, seperti fungsi arca, letaknya, keterkaitannya dengan candi, sosok yang digambarkan, serta bagaimana sosok tersebut memiliki peran penting dalam agama Hindu.
Munculnya Festival Budaya Narashingramurti didukung oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi serta APBN yang diberikan langsung kepada Museum Singhasari. Festival ini merupakan gabungan dari beberapa kegiatan, salah satunya berupa kegiatan publik yang melibatkan banyak orang. Melalui kegiatan tersebut Museum Singhasari berupaya menambah jumlah kunjungan dan membuat lebih banyak generasi Z mengenal sejarah. Sejarah yang dianggap membosankan, beku, dan tidak menarik disampaikan dengan metode yang lebih humanis dan komprehensif agar dapat diterima oleh berbagai golongan dan tetap diingat. Museum juga berupaya menghilangkan anggapan bahwa museum merupakan tempat yang berbahaya.
Makna dari Festival Budaya Narashingramurti adalah mempromosikan Museum Singhasari, terutama kepada masyarakat di sekitar Singosari. Museum memilih ratusan siswa dari Kecamatan Singosari dari jumlah siswa yang mencapai belasan ribu untuk memperkenalkan bahwa di Singosari terdapat museum. Museum juga melakukan riset mengenai hal-hal yang terdapat pada era Kerajaan Singhasari dan memperkenalkan kembali tokoh-tokoh yang pernah hidup pada masanya seperti Ken Angrok, Ken Dedes, Anusapati, dan Tohjaya. Hal tersebut dilakukan karena semakin sedikit masyarakat yang mengetahui tokoh-tokoh tersebut. Nilai lainnya adalah sebagai pembatas terhadap masuknya kebudayaan asing, karena masyarakat dapat mengetahui budaya dari luar tetapi belum tentu mengetahui sejarah yang terdapat di daerahnya sendiri. Singosari memiliki nama besar sehingga sejarahnya perlu diketahui oleh masyarakat, khususnya masyarakat Kabupaten Malang.
Festival Budaya Narashingramurti telah direncanakan sejak tahun sebelumnya, tetapi dalam pelaksanaannya mengalami perubahan konsep karena adanya beberapa dinamika. Salah satu bagian yang dihilangkan adalah Raja Mangsa atau makanan raja pada zaman dahulu. Festival kemudian dilaksanakan selama lima hari dengan mengambil jadwal setelah pelajar selesai ujian karena sasaran utama kegiatan adalah pelajar. Kegiatan berlangsung mulai pagi hingga pukul empat sore. Dalam pelaksanaannya tidak menggunakan jasa band, tetapi lebih mengangkat kesenian yang sedang diminati seperti bantengan yang ditampilkan selama kegiatan pameran. Pengunjung juga tidak dipungut biaya untuk memasuki festival.
Festival Budaya Narashingramurti diprakarsai oleh pihak Museum Singhasari. Kegiatan ini berbentuk museum temporer dengan melibatkan Museum Mpu Purwa untuk berpartisipasi dalam pameran bersama, tetapi tetap diselenggarakan atas nama Museum Singhasari. Penyebaran kegiatan difokuskan di daerah Singosari karena masih banyak masyarakat Singosari yang belum mengetahui keberadaan museum tersebut. Pengunjung Museum Singhasari sebelumnya justru banyak berasal dari daerah yang lebih jauh, sedangkan masyarakat sekitar masih ada yang baru mengetahui keberadaan museum. Sosialisasi melalui festival diperlukan karena Singosari menyimpan banyak tinggalan benda dan masyarakat perlu mengetahui peran museum dalam keberadaan tinggalan tersebut.
Referensi
Wawancara dan dokumentasi asli
Koreksi Kami
Temukan informasi yang perlu diperbaiki? Kirim masukan kepada arsiparis.
