Festival Mbabar Mbubur suro & Kirab Gunung Apem
Deskripsi
Festival Mbabar Mbubur Suro dilaksanakan pada bulan Suro dalam penanggalan Jawa, biasanya menjelang malam 1 Suro. Mbabar Mbubur merupakan kebiasaan yang muncul dalam kebudayaan masyarakat dengan memberikan tetenger atau tanda pada peringatan-peringatan tertentu. Kegiatan ini dilakukan dengan membuat jenang atau bubur yang karena dilaksanakan pada bulan Suro kemudian disebut jenang Suro atau bubur Suro. Secara sejarah tidak diketahui secara pasti kapan kegiatan Mbabar Mbubur pertama kali dilaksanakan, tetapi kegiatan tersebut masih dilaksanakan oleh masyarakat setempat hingga saat ini.
Bubur Suro merupakan bubur atau jenang yang tidak memiliki rasa, kemudian ditambahkan berbagai bumbu lain sehingga dapat dikonsumsi. Nilai yang terdapat dalam kegiatan Mbabar Mbubur Suro adalah sebagai bentuk sedekah kepada sesama. Selain itu terdapat kepercayaan masyarakat bahwa karena dilaksanakan pada bulan Suro, doa yang disampaikan dapat lebih cepat terkabul. Secara khusus kegiatan ini juga digunakan sebagai salah satu media untuk promosi dan mengembangkan objek wisata Makam Ki Ageng Gribig.
Kegiatan Mbabar Mbubur Suro mulai dilaksanakan sebagai kegiatan pengembangan kepariwisataan sejak Agustus 2020. Tidak diketahui secara pasti siapa yang pertama kali menemukan atau melaksanakan Mbabar Mbubur karena kegiatan tersebut merupakan cerita luhur atau kebiasaan masyarakat setempat. Namun, gagasan untuk mengembangkan kegiatan tersebut sebagai bagian dari kepariwisataan Kota Malang berasal dari Pokdarwis atau Kelompok Sadar Wisata Kampung Gribig Religi. Penyebaran kegiatan Mbabar Mbubur Suro dilakukan pada masyarakat di sekitar Makam Ki Ageng Gribig.
Selain Mbabar Mbubur Suro, terdapat kegiatan Kirab Gunungan Apem. Kegiatan ini memiliki kemiripan dengan kegiatan sebelumnya, tetapi berbeda pada waktu pelaksanaan dan bentuk pemberiannya. Kirab Gunungan Apem menggunakan media kue apem yang disusun membentuk tumpeng kemudian dikirab di sekitar Makam Ki Ageng Gribig. Penggunaan apem sebagai media dalam kegiatan ini karena kata apem dianggap mirip dengan kata ampun. Pemberian kue apem memiliki makna sebagai wujud meminta maaf kepada seluruh peserta yang hadir. Kegiatan ini juga dilaksanakan untuk menyambut masuknya bulan Ramadan.
Kirab Gunungan Apem biasanya dilaksanakan sekitar empat hari sebelum memasuki bulan Ramadan yang disebut juga dengan punggahan poso atau megengan. Kegiatan ini mengandung nilai keagamaan yang menggambarkan rasa senang dan gembira masyarakat dalam menyambut bulan suci Ramadan yang diawali dengan pembuatan apem.
Kirab Gunungan Apem mulai dilaksanakan sebagai sebuah event besar pada Agustus 2020. Namun, di masyarakat kegiatan tersebut telah dilakukan sejak lama secara turun-temurun. Tidak diketahui secara pasti siapa yang pertama kali menemukan atau memulai kegiatan tersebut karena tradisi ini muncul dari masyarakat. Persebarannya terdapat hampir di seluruh masyarakat Jawa dengan berbagai keunikan masing-masing. Di sekitar Makam Ki Ageng Gribig, keunikannya terdapat pada penggunaan kue apem yang disusun dalam bentuk seperti tumpeng.
Referensi
Wawancara dan Dokumentasi Asli
Koreksi Kami
Temukan informasi yang perlu diperbaiki? Kirim masukan kepada arsiparis.
