05 — Kerajinan tangan tradisional

Wayang Suket Puspasarira

🏷 05MERJOSARI1 📍 Merjosari 👤 —

Deskripsi

Wayang Suket Puspasarira merupakan kerajinan tangan yang menyerupai wayang terbuat dari mendong atau rumput yang tergolong dalam keluarga Cyperaceae. Kerajinan tangan tersebut pertama kali dibuat pada tahun 2014 oleh Samsul Subakri atau yang akrab disapa Mbah Karjo/Mbah Jo. Saat itu MBah Karjo mendapat Job untuk mengisi acara di Pekan Kekerabatan Jambore Siswa-siswi Sekolah Katolik se-Indonesia dengan topik membuat mainan ramah lingkungan dan mengajarkan proses penjernihan air. Mbah Karjo mengajarkan proses penjernihan air, kemudian dibantu istrinya untuk membuat mainan ramah lingkungan dengan membuat wayang dari bahan suket/rumput.
Awal mula pembuatan Wayang Suket Puspasarira diinisiasi oleh Istri Mbah Karjo yang kemudian dikembangkan hingga saat ini menjadi berbagai macam karakter. Dari segi karakter, Wayang Suket Puspasarira hanya terdiri dari 2 karakter, yaitu laki-laki/perempuan; tua/muda serta manusia/hewan. Sebelum disebut Wayang Suket Puspasarira, saat itu terdapat dua pilihan nama yaitu Damisdira dan Puspasarira. Dikutip dari Rachmawati, N. Zurinani, S. 2023 Wayang Suket Puspasarira mendapatkan hak pengakuan dari pemerintah. Pada saat itu wayang suket Puspasarira belum spesifik memiliki nama Puspasarira. Boneka ini hanya disebut sebagai boneka wayang suket seperti pada umumnya. Namun setelah bertemu dengan arkeolog UM, Dwi Cahyono dalam acara kesenian di Malang, boneka ini diberi nama Puspasarira dengan arti ‘puspa’ adalah bunga dan ‘sarira’ adalah boneka kecil.
Penyebaran Wayang Puspasarira melalui pertunjukan ke arah barat paling jauh di Jakarta, ke timur paling jauh di Denpasar, Bali. Di Pulau Jawa pernah ditampilkan di Jogja, Solo, Magelang. Sedangkan di Jawa Timur pernah ditampilkan di wilayah Malang hampir di semua kecamatan. Kemudian Blitar, Tulungagung, Gresik, Sidoarjo, Pasuruan, Lumajang, Banyuwangi dan Jember. Konsep pertunjukan wayang suket Puspasarira menggunakan konsep bolak-balik atau wolak-walik yang menjelaskan bahwa suatu hal dapat dipandang dari sisi lain. Dalam pertunjukan wayang suket Puspasarira dahulu menggunakan iringan musik langsung, baik sendiri atau berkelompok, namun saat ini menggunakan rekaman. Teknik memainkannya menggunakan prinsip ayang-ayang atau bayang-bayang yang terdiri dari 3 elemen yaitu sumber sinar, boneka penghalang sinar, dan layar.
Cerita yang dibawakan dalam wayang suket Puspasarira cenderung mengambil cerita Panji yang dikemas secara sederhana tetapi nilai-nilainya dapat diterima oleh yang menonton terutama anak-ank. Topik yang dibawakan cenderung mengajak anak untuk berempati kepada lingkungan, memberikan kesadaran bermasyarakat sert menikmati kebersamaan. (Syamsul Subakri)
Proses pembuatan Wayang Suket Puspasarira memiliki ketentuan antara jumlah bahan dan panjang bahan yang digunakan, yaitu berjumlah 6 batang dengan panjang 100 jari. Penentuan jumah serta panjang bahan memiliki filosofi yang dijabarkan melalui perhitungan pengurangan. Proses pembuatan wayang suket Puspasarira dapat disaksikan secara langsung dan dijelaskan nilai-nilai di setiap anyamannya.
Nilai 100 diperoleh dari jumlah angka yang memiliki arti sebagai berikut. 6 bahan menggambarkan 6 indera manusia. Pangganda: mengenali bau, pandulu: mengenali obyek visual, pangrungu: mengenali obyek audio, pangecap: mengenali citarasa, panggrahita: mengenali sensasi panas-dingin halus-kasar, serta pangerasa: mengenali nyaman-tidak nyaman.35 menjelaskan hari pasaran, 20 menjelaskan aksara jawa, 9 menjelaskan jumlah lubang tubuh manusia, 8 menunjukan waktu windu, 7 menjelaskan jumlah lapisan bumi dan lapisan langit, 6 menunjukan jumlah penjuru yaitu depan, kiri, belakang, kanan, atas,dan bawah. 5 menjelaskan pancasila, 4 sebagai simbol anasir alam yaitu air, api, udara dan tanah. 3 melambangkan tri pratama, laki-laki: guna, kaya, wirya; perempuan: ganda, rasa, rupa. 2 mennggambarkan jodoh yaitu (mati-hidup, siang-malam, pagi-sore) dan yang terakhir adalah 1 merujuk pada pribadi atau diri sendiri.
Langkah pembuatan wayang suket Puspasarira sebagai berikut: (1) Pembuatan hidung atau irung (isa urung) (2) Pembuatan kepala atau sirah (isine wewarah), (3) Pembuatan rambut atau rikma (katariking sukma). (4) Pembuatan Gelung, yaitu model rambut yang digulung. Gelung (aja tegel, senenga tetulung). (5) Pembuatan leher atau jangga (aja sok nangga ning aja lali karo tangga). (6) Pembuatan pundak (pujimu aja pendhak), pundah ada 2 yaitu kiri (potensi) dan kanan (konsentrasi). (7) Pembuatan bagian badan yaitu dada (padha-padha). (8) Pembuatan perut atau weteng (9) Pembuatan pinggul atau bokong. (10) Pembuatan kaki atau suku (aja kesusu yen lumaku). (11) Pembuatan lutut atau dhengkul (yen durung mudeng aja tumungkul). (12) Pembuatan telapak kaki atau delamaan sikil (napak lusi (rumput) lan kerikil, sering membuat celaka, terjerat atau tergelincir) 13. Pembuatan lengan atau lengen (kudu ndeleng yen nduwe angen-angen).
Proses pembuatan wayang laki-laki dan perempuan berbeda pada penjelasan. Laki-laki dapat dijelaskan hingga kaki, tetapi wayang perempuan hanya hingga pinggang karena kakinya tidak nampak. Bentuk payudara wayang perempuan pada wayang klasik biasanya menggunakan 4 simpul, ini digunakan untuk menceritakan catur bakti = empat penghormatan (marang sesama, gusti [raja], bapa-biyung, guru). Pada pinggang wayang perempuan terdapat 5 simpul menggambarkan panca (lima) suda (berkurang). Manusia dalam keseharian akan mengalami 5 hal yang berkurang yaitu usia, masa, kesehatan, kekayaan.

Referensi

Penerbit
Kontributor
Waktu
Kategori
Format Referensi
Bahasa
Arsip Berkaitan
Cakupan
Hak Cipta
Lokasi
Tokoh

Koreksi Kami

Temukan informasi yang perlu diperbaiki? Kirim masukan kepada arsiparis.