Kerajinan Tangan Topeng Malangan
Deskripsi
Kerajinan Topeng Malangan di Sanggar Asmarabangun sudah berkembang sejak lama. Kelompoknya sudah ada sejak sekitar tahun 1900 pada masa Mbah Serun. Pada awalnya kelompok tersebut bernama Pendawa Lima karena cerita yang diangkat adalah cerita Purwa atau Mahabarata dari Mbah Serun dan Mbah Kiman. Pada masa Mbah Karimun, nama kelompok kemudian berubah menjadi Asmarabangun karena mulai mengangkat cerita Panji. Sanggar Asmarabangun sendiri berdiri sejak tahun 1982. Pak Handoyo selain menjadi pengrajin topeng juga merupakan pelaku seni dan pengajar tari di Sanggar Asmarabangun.
Awal mula penggunaan topeng berkaitan dengan Upacara Srada, yaitu upacara untuk seorang raja yang telah meninggal. Tujuannya untuk memutus karma karena selama hidup seseorang mungkin melakukan kesalahan yang belum sempat ditebus. Upacara Srada sudah ada di Malang sejak masa Kerajaan Kanjuruhan sekitar tahun 760, kemudian berkembang di Kerajaan Kediri, Singosari hingga Majapahit. Pada sekitar tahun 1350 topeng sudah digunakan sebagai tarian oleh Prabu Hayam Wuruk. Di Malang keberadaan topeng juga disebut sudah ada sejak tahun 1715. Kemudian kesenian topeng kembali diangkat oleh Bupati Malang keempat Raden Syarif Suryadiningrat pada masa Belanda yang mewajibkan para pejabat dapat menari topeng. Dari sana penyebaran topeng berkembang ke wilayah Malang Timur seperti Jabung, Tumpang hingga lereng Bromo melalui Mbah Reni atau Mbah Candra, sedangkan di wilayah Malang Selatan seperti Kedungmonggo, Jatikui, Senggreng dan Gunung Kawi melalui Pak Gurawan. Pada tahun 1900 terdapat sekitar 33 grup topeng.
Topeng Malangan memiliki 76 karakter yang digunakan dalam 15 cerita Panji. Dalam setiap cerita Panji dapat muncul sekitar 20 topeng. Pada generasi pertama jumlah karakter topeng hanya sekitar 60, kemudian berkembang menjadi 76 karakter karena terdapat tokoh dalam cerita yang sebelumnya belum mempunyai bentuk topeng. Dalam membuat karakter baru diperlukan meditasi. Menurut Pak Handoyo, gambaran karakter terkadang diperoleh melalui mimpi berupa petunjuk dari almarhum ayahnya dan harus dikerjakan dalam waktu tiga hari. Apabila tidak segera dikerjakan, gambaran karakter tersebut dapat hilang. Sebelum membuat topeng, bahan baku harus sudah dipersiapkan.
Bahan baku yang digunakan untuk membuat Topeng Malangan antara lain kayu sengon, kayu pule, kayu nangka, kayu mentaos, dan kayu kembang. Kayu yang digunakan merupakan kayu yang memiliki getah yang tidak disukai hama dan bukan kayu yang digunakan sebagai bahan bangunan. Setiap jenis kayu memiliki karakteristik yang berbeda. Pada bahan tertentu, pemilihan kayu juga dikaitkan dengan proses tertentu. Kayu dipotong terlebih dahulu dengan memilih hari yang baik, kemudian dibentuk menjadi segitiga dengan jumlah ganjil. Dalam pembuatan topeng harus memperhatikan arah serat pohon dan tidak boleh terbalik antara bagian atas dan bawah.
Ciri Topeng Malangan juga dapat dilihat dari bentuk dan warnanya. Bentuk mata Topeng Malangan sedikit lebih besar dibandingkan topeng Jawa Tengah dan berada di antara bentuk topeng Jawa Tengah dan Bali. Topeng Jawa Tengah cenderung memiliki bentuk mata lebih kecil dan menyerupai wayang. Filosofi pada Topeng Malangan terdapat pada penggunaan warna. Warna dasar yang digunakan akan berkaitan dengan cerita dan karakter topeng yang dimainkan.
Dalam Topeng Malangan terdapat empat karakter manusia, yaitu karakter baik yang digambarkan melalui tokoh Panji, karakter jahat melalui tokoh Sabrang, karakter lucu atau jenaka, dan karakter binatang. Tokoh Sabrang memiliki simbol berupa mata bulat dan taring. Cerita Panji menggambarkan cerita leluhur yang disampaikan kepada generasi sekarang melalui seni pertunjukan. Salah satu contohnya terdapat dalam cerita pernikahan Dewi Sekartaji yang memberikan beberapa syarat kepada tokoh Panji, yaitu dulur sakembaran, Gamelan Kencana Robyong, kebo bule sungu emas, pengiring Dewa dan Bala Buto, serta Kembang Wijayakusuma. Dalam cerita tersebut terdapat gambaran mengenai saudara yang tidak terlihat, hati nurani, jabatan atau kekayaan, nafsu, dan pilihan dalam kehidupan.
Proses pembuatan Topeng Malangan dilakukan secara manual, meskipun terdapat bantuan mesin untuk proses menghaluskan. Untuk kayu sengon, proses pembuatan membutuhkan waktu sekitar tiga hari. Prosesnya dimulai dari kayu bulat yang dibelah menjadi dua, kemudian dibentuk menjadi segitiga. Setelah itu dibuat bagian yang paling tinggi terlebih dahulu yaitu hidung, kemudian dilanjutkan dengan mata dan mulut, memberikan batas wajah dan ukiran ornamen, serta memperjelas karakter topeng. Bagian belakang kemudian dilubangi, dihaluskan dengan cara digosok, dicat menggunakan warna dasar kemudian dilanjutkan dengan warna lainnya. Untuk mengawetkan kayu digunakan obat rayap.
Pada pembuatan topeng menggunakan kayu nangka terdapat proses pemilihan hari dan bahan baku. Pembuat topeng juga melakukan puasa selama satu hari karena menjadi salah satu ajaran leluhur yang masih dipegang. Menurut Pak Handoyo, aura topeng yang dibuat melalui tahapan tersebut berbeda dengan topeng yang dibuat secara asal-asalan. Harga jualnya juga dapat mencapai tiga kali lipat dibandingkan topeng biasa. Selain sebagai benda seni, terdapat pula topeng yang digunakan sebagai jimat, seperti untuk menarik pembeli atau menghalau makhluk halus. Biasanya topeng tersebut menggunakan kayu kembang yang memiliki aroma wangi.
Pemakaian Topeng Malangan menggunakan tali dan tidak digigit karena durasi pementasan topeng cukup lama. Tari topeng Bapang merupakan salah satu tari dalam topeng yang hanya menggambarkan satu tokoh dalam cerita Panji dengan durasi sekitar 5–8 menit, sedangkan pertunjukan Wayang Topeng Panji dapat berlangsung hingga sekitar sembilan jam. Penampilan seni saat ini juga mulai disesuaikan dengan perkembangan zaman, termasuk dari penggunaan bahasanya.
Penyebaran Topeng Malangan sudah mencapai luar negeri. Pak Handoyo pernah mengerjakan pesanan topeng dari Manila dan Laos. Perkembangan budaya Topeng Malangan saat ini mulai memiliki peminat, meskipun kondisi sebelum pandemi dinilai lebih ramai. Topeng Malangan juga telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda, tetapi menurut Pak Handoyo belum terdapat kelanjutan bantuan anggaran dari pemerintah. Saat ini juga tidak terdapat paguyuban topeng.
Sanggar Asmarabangun berupaya menjaga keberlangsungan Topeng Malangan melalui kegiatan latihan tari topeng setiap minggu. Sebelum pandemi latihan dilakukan secara gratis, sedangkan saat ini dikenakan iuran sebesar Rp10.000 per bulan karena terdapat beberapa orang yang ikut membantu melatih. Setiap pertemuan memiliki materi tari yang berbeda dan kegiatan berlangsung sekitar pukul 08.00–12.00. Setiap bulan Suro juga terdapat penampilan besar. Di Bengkel Asmarabangun tidak terdapat workshop khusus pembuatan topeng, tetapi masyarakat yang ingin belajar dapat datang langsung. Namun, saat ini sudah jarang terdapat orang yang ingin belajar mengenai topeng.
Referensi
Wawancara dan Dokumentasi Asli
Koreksi Kami
Temukan informasi yang perlu diperbaiki? Kirim masukan kepada arsiparis.
