Kerajinan Tangan Rotan
Deskripsi
Kerajinan rotan di Balearjosari sudah ada sejak zaman dahulu. Kerajinan ini diawali oleh Pak Kandar, ayah dari Pak Langgeng, yang pada awalnya membuat kursi dan rak perabotan dari bambu. Pak Kandar lahir pada tahun 1911 dan sekitar umur 15 tahun mulai membuat anyaman dari bambu. Pada saat itu kegiatan menganyam dilakukan sembari berkebun atau bertani, terutama saat menunggu musim panen. Setelah itu Pak Kandar mencari bahan hingga ke hutan daerah Sumbermanjing Wetan sampai Pantai Ngliyep dan menemukan orang yang menjual rotan. Dari situlah kemudian mulai mencoba beralih menggunakan rotan. Tahun pastinya tidak dapat dipastikan, tetapi diperkirakan sudah berlangsung sejak zaman perang. Daerah Balearjosari sendiri sejak dahulu sudah dikenal dengan kerajinan rotan, dengan Pak Kandar sebagai salah satu yang mengawali pembuatannya.
Kerajinan rotan kemudian diturunkan kepada Pak Langgeng. Awalnya Pak Langgeng diminta oleh orang tuanya untuk membantu menganyam, kemudian merantau ke Bali untuk berjualan rotan. Pada tahun 1990-an kegiatan kerajinan rotan mulai lebih banyak beralih kepada Pak Langgeng. Pak Langgeng telah memproduksi kerajinan rotan selama kurang lebih 30 tahun. Produksi kerajinan rotan miliknya merupakan usaha pribadi, tetapi dalam pelaksanaannya juga terdapat kerja sama dengan beberapa rekan. Produksi yang dilakukan bergantung pada penjualan, baik dijual secara langsung, menunggu pesanan, maupun membuat contoh produk terlebih dahulu.
Jenis kerajinan tangan rotan yang dibuat cukup beragam, seperti meja, kursi, sekat rumah, rak, bingkai cermin, penutup nasi, hiasan lampu gantung, dan hiasan dinding. Selain itu, kreasi yang dibuat oleh Pak Langgeng juga berupa figura, cermin, hiasan bulatan dinding dari batik perca, dan mainan. Salah satu produk yang pertama kali dibuat oleh Pak Langgeng adalah bingkai cermin. Namun, produksi cermin tersebut tidak berlanjut karena banyak pesaing yang meniru desainnya dan menjual dengan harga yang lebih murah. Produk kerajinan rotan juga dikreasikan menggunakan cat warna. Jenis anyaman yang digunakan antara lain liris, biasa, gedhek, dan ruwet. Ciri khas anyaman karya Pak Kandar dan Pak Langgeng adalah bentuknya yang unik dan sulit ditiru.
Pada zaman dahulu, pengrajin rotan membuat desain dengan kreativitas sendiri tanpa menggunakan gambar. Bentuk yang ingin dibuat terlebih dahulu dikarang kemudian dicoba untuk diwujudkan. Hal yang sama dilakukan Pak Langgeng, ide dalam menganyam rotan kebanyakan berasal dari karangan sendiri, meskipun terkadang juga melihat referensi dari internet. Pada tahun 1977 sudah pernah dibuat kursi raja dari rotan dengan desain yang dikarang sendiri. Menurut Pak Langgeng, orang zaman sekarang lebih banyak menjiplak bentuk yang sudah ada kemudian memberikan sedikit kreasi.
Bahan rotan yang digunakan terdiri dari beberapa jenis, yaitu rotan kor ukuran 7 ml, rotan fitrip ukuran 5 ml, dan rotan galar. Rotan diperoleh dari beberapa daerah seperti Ngliyep, Banyuwangi, Pasuruan, dan Balekambang. Proses pembuatan kerajinan rotan masih dilakukan secara manual. Pengetahuan membuat kerajinan diperoleh dari orang tua secara turun-temurun. Alat yang digunakan juga masih sederhana, seperti tutup tong atau ember air yang digunakan untuk membantu membuat bentuk bulatan kecil. Saat ini proses pembentukan juga menggunakan bantuan gas elpiji. Pembuatan kerajinan rotan juga dapat dipadukan dengan anyaman tali atau rumbai-rumbai.
Proses pembuatan kerajinan rotan diawali dengan memotong rotan, kemudian rotan dimasak menggunakan solar hingga mendidih selama kurang lebih 30 menit. Proses tersebut bertujuan agar rotan lebih awet dan tidak mudah dimakan rayap. Setelah itu rotan dijemur sampai kering dan dilanjutkan ke tahap pembentukan. Secara keseluruhan proses pembuatan kerajinan rotan membutuhkan waktu kurang lebih satu minggu.
Seiring berjalannya waktu, kerajinan rotan mulai menggunakan perpaduan dengan rotan sintetis. Rotan sintetis mulai dikenal sekitar tahun 2010. Salah satu penerapannya terdapat pada pembuatan kursi, dengan kerangka utama tetap menggunakan rotan kemudian bagian luarnya dililit atau dianyam menggunakan rotan sintetis. Dari segi pemasaran, biasanya dibuat contoh barang terlebih dahulu untuk dipamerkan, salah satunya di Bali. Sasaran pasar kerajinan rotan juga mencapai konsumen mancanegara. Persaingan antar pengrajin rotan di Balearjosari cenderung terjadi pada harga. Ketika terdapat suatu karya dan telah ditentukan harganya, pengrajin lain dapat meniru lalu menjualnya dengan harga yang lebih murah.
Saat ini Pak Langgeng sudah tidak banyak melakukan produksi karena faktor kesehatan. Dampak Covid pada tahun 2021 juga menjadi salah satu faktor yang menghambat produksi hingga saat ini. Meskipun demikian, kegiatan pembuatan kerajinan rotan masih berjalan sembari menghabiskan stok rotan yang telah dibeli dalam jumlah banyak pada tahun 2021. Proses pembuatan dilakukan di rumah dan juga di Pakis. Di Balearjosari terdapat paguyuban pengrajin rotan, tetapi Pak Langgeng tidak bergabung dalam komunitas tersebut. Kebanyakan usaha pengrajin di wilayah tersebut merupakan usaha pribadi dan hasil produksinya dijual dengan cara berkeliling. Saat ini jumlah pengrajin rotan di Balearjosari cukup banyak, tetapi sebagian besar bukan warga asli Balearjosari melainkan pendatang baru.
Referensi
Wawancara dan Dokumentasi Asli
Koreksi Kami
Temukan informasi yang perlu diperbaiki? Kirim masukan kepada arsiparis.
