Keramik Dinoyo
Deskripsi
Sentra industri Keramik Dinoyo bermula dari perkembangan kerajinan gerabah Penanggungan. Pada awalnya di Dinoyo didirikan industri keramik setelah adanya survei atau riset dari Kementerian Perindustrian. Keramik Dinoyo merupakan turunan dari gerabah Penanggungan. Pada tahun 1945 keramik dibuat untuk memenuhi kebutuhan peralatan rumah tangga. Suatu produk dapat dikatakan sebagai keramik apabila melalui proses pembakaran dengan suhu 900 derajat Celsius ke atas, sedangkan apabila dibakar pada suhu di bawah 900 derajat Celsius termasuk gerabah. Kemudian pada tahun 1954, melihat potensi para pengrajin keramik dan letak Dinoyo yang strategis, dibuatlah Kampung Keramik Dinoyo yang mulai beroperasi pada tahun 1957. Untuk meningkatkan kualitas keramik agar tetap higienis ketika digunakan sebagai peralatan rumah tangga, keramik kemudian dibuat menggunakan bahan tanah liat putih. Di Penanggungan tetap memproduksi gerabah seperti pot, kendi, dan celengan, sedangkan Keramik Dinoyo lebih banyak memproduksi peralatan makan dan minum.
Usaha keramik milik Pak Soeharto didirikan pada tahun 1970 sejalan dengan adanya kebijakan pemerintah berkaitan dengan REPELITA. Pada saat itu pembangunan menjadi prioritas dan membutuhkan keramik sebagai salah satu bahan isolator. Usaha keramik tersebut kemudian diteruskan oleh keluarganya, dan pada tahun 1984 Pak Soeharto mulai melanjutkan usaha milik orang tua. Dalam perkembangannya juga terjadi perubahan teknologi. Pada tahun 1985 terdapat alih teknologi listrik yang sebelumnya mengikuti teknologi Belanda kemudian mengikuti teknologi Prancis yang dianggap lebih praktis. Dahulu terdapat sekitar 12 orang pengrajin keramik dan di daerah Mbetek terdapat enam pengrajin. Namun, saat ini jumlah pengrajin hanya sekitar tujuh orang. Berkurangnya jumlah pengrajin dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya pemasaran yang menurun.
Keramik Dinoyo selalu mengalami perkembangan. Pada awalnya keramik lebih banyak digunakan sebagai perabotan rumah tangga, kemudian mulai berkembang menjadi berbagai produk dekorasi rumah seperti vas bunga dan asbak. Pada sekitar tahun 1995–2000 mulai dibuat berbagai keramik hias yang bermula dari pengrajin melihat keramik yang menjadi barang antik dari Cina kemudian meniru dan mengembangkan modelnya. Jenis produk Keramik Dinoyo saat ini sangat beragam. Apabila dirinci berdasarkan ukuran, warna, dan bentuk, jumlahnya dapat mencapai ratusan jenis. Produk yang dibuat antara lain cangkir, mug, wadah aromaterapi, vas bunga, tempat abu jenazah, pot bunga, tempat makan burung, dan asbak.
Setiap pengrajin memiliki kreativitas dalam menentukan desain dan motif keramik. Desain dan motif dibuat melalui proses mencoba berbagai bentuk dengan menonjolkan keunikan masing-masing produk. Bentuk keramik yang dibuat juga terkadang menyesuaikan dengan pesanan konsumen. Ciri khas Keramik Dinoyo dapat dilihat dari badan keramik yang berwarna putih dengan gambar atau ornamen berwarna biru, hijau, dan merah muda. Filosofi dari setiap motif bergantung pada penerimaan atau pemaknaan masing-masing orang. Namun, pada Keramik Dinoyo sering digunakan motif timbul agar bentuk yang terdapat pada keramik terlihat semakin hidup.
Pembuatan Keramik Dinoyo menggunakan bahan berupa tanah liat, kaolin, pasir, dan air. Proses pembuatannya diawali dengan tanah liat putih yang dihaluskan menggunakan mixer, kemudian disaring dengan ukuran 100 mesh. Setelah itu bahan dibentuk menjadi adonan dengan ditambahkan air, kemudian masuk ke tahap pencetakan. Keramik yang telah terbentuk selanjutnya dibakar dan diglasir untuk menutup pori-pori keramik agar air tidak meresap. Terdapat pula proses finishing untuk merapikan bentuk keramik setelah keluar dari cetakan. Sisa bahan yang tidak terpakai dapat diolah kembali atau dimanfaatkan untuk keperluan lainnya. Lama proses pembuatan keramik kurang lebih satu minggu dari tahap awal hingga akhir. Salah satu kendala dalam proses pembuatannya adalah kondisi cuaca yang berpengaruh terhadap proses pengeringan. Pengeringan juga dapat dilakukan menggunakan bantuan alat, tetapi kualitas yang dihasilkan dapat berbeda.
Dahulu proses pembakaran Keramik Dinoyo menggunakan minyak tanah. Namun, semenjak adanya kebijakan pemerintah yang melarang penggunaan minyak tanah, proses pembakaran beralih menggunakan gas LPG. Keramik Dinoyo yang digunakan sebagai peralatan makan dan minum juga telah melalui uji coba kelayakan pakai. Penyebaran produk Keramik Dinoyo sudah mencapai beberapa daerah seperti Jakarta, Kalimantan, Karanganyar, dan Bali, meskipun sebagian besar penyebarannya masih berada di wilayah Jawa Timur.
Pada sekitar tahun 2000 Kampung Keramik Dinoyo mulai ramai sebagai kampung wisata. Perkembangan tersebut juga dibantu melalui beberapa program mahasiswa seperti pembuatan taman. Letak Dinoyo yang berada sejalan dengan arah wisata menuju Batu menjadikan wilayah tersebut strategis untuk dikembangkan sebagai kampung tematik. Perkembangan media sosial juga ikut memengaruhi minat pengunjung untuk datang ke Kampung Keramik Dinoyo. Namun, kegiatan kerajinan keramik sempat mengalami penurunan pada masa pandemi. Pada saat yang sama beberapa pengrajin dan pelukis meninggal dunia, sedangkan generasi penerus belum dipersiapkan. Setelah pandemi, produksi kembali banyak beralih pada pembuatan peralatan makan dan minum untuk kebutuhan kafe, seperti cangkir, sehingga kembali menyerupai produk yang dibuat pada masa awal perkembangan Keramik Dinoyo.
Saat ini pengrajin Keramik Dinoyo mulai menggandeng anak muda untuk berlatih dan berkreasi dalam mengembangkan kerajinan keramik, salah satunya melalui media cetak atau sablon. Selain itu, terdapat Paguyuban Keramik Dinoyo yang terdiri atas pengrajin dan pedagang. Keberadaan kegiatan bersama generasi muda dan paguyuban tersebut menjadi bagian dari perkembangan kerajinan Keramik Dinoyo agar kegiatan produksi dan kreativitas pengrajin tetap berjalan.
Referensi
Wawancara dan Dokumentasi Asli
Koreksi Kami
Temukan informasi yang perlu diperbaiki? Kirim masukan kepada arsiparis.
