Gerabah Penanggungan
Deskripsi
Sentra industri gerabah Penanggungan sudah ada sejak sebelum kemerdekaan dari zaman mbah buyut warga kelurahan penanggungan sekitar tahun 1920. Pada saat itu keahlian membuat gerabah dikenalkan oleh Mbah Kasong yang berasal dari Kasongan, Jawa Tengah yang datang di daerah Penanggungan dan mengajarkan keahlian membuat gerabah, setelah itu Mbah Kasong kembali lagi ke Jawa Tengah. Pada awalnya membuat gerabah dalam bentuk gentong (wadah air), kendi dan beberapa alat dapur. Kemudian seiring berjalannya waktu mulai berkembang membuat bentuk-bentuk dekorasi untuk hiasan seperti pot bunga, celengan, hiasan topeng malangan, dan asbak.
Filosofi gerabah erat kaitannya dengan kehidupan manusia. Ketika manusia baru saja dilahirkan, plasenta/ari-arinya sebelum dikubur akan diletakan pada wadah yaitu kendi dari gerabah.Dalam hal ini gerabah merupakan gambaran wadah diri kita sendiri, karena terdapat 4 unsur yaitu tanah, api, air dan udara dalam pembuatan gerabah. Penggambaran dari wadah adalah tubuh kita sendiri, bergantung kepada diri kita wadah ini mau diisi dengan hal seperti apa. Apakah hal yang baik atau hal yang buruk. Mau diisi sesuatu yang indah atau mau diisi dengan sesuatu yang negatif. Apabila diisi sesuatu yang indah maka kendi akan indah dan sebaliknya.
Dahulunya warga penanggungan memiliki pencaharian sebagai petani dan peternak.Hal tersebut berkaitan dengan ciri khas gerabah penanggungan yang berbentuk ayam, seperti produk celengan ayam yang sedang mengeram atau bertelur. Filosofinya juga mengajarkan tentang ilmu perbankan bahwa harus menabung, kemudian ada istilah “pecah telur” yang menggambarkan waktunya panen. Tidak hanya itu corak gerabah yang sering dibuat lebih cenderung pada corak naga. Dari naga jika dilihat dari filosofi cina adalah sebagai simbol penjuru mata angin. Dalam ajaran Jawa ada istilah “naga dina” yang memuat aturan arah dan hari baik dan buruk setiap orang.
Setiap karya seni memiliki rasa, pada hakikatnya rasa tidak memiliki wujud dan tidak terlihat warnanya. Tetapi rasa dapat diekspresikan melalui gerak dan metabolisme tubuh manusia. Seperti kendi yang sudah ada sejak zaman dahulu, dari zaman kerajaan. Kata kendi itu akronim dari kendali diri. Melalui kendi kita dapat belajar untuk mengendalikan diri. Kendi juga identik dengan tempat air, saat sedang minum atau menuangkan air harus pelan-pelan agar tidak tumpah/basah.
Pembuatan gerabah membutuhkan tanah liat yang mengandung unsur mineral, tidak semua tanah bisa digunakan sebagai gerabah. Tanah liat yang digunakan untuk membuat gerabah Penanggungan mengambil di wilayah Penanggungan dan Wagir. Proses pembuatan masih manual dan menggunakan teknik cetak. Dimulai dari tanah yang kemudian diolah/dikaliskan menggunakan air dan pasir selanjutnya ke tahap pembentukan bisa menggunakan teknik putar, drawing dan cetak tekan. Penyebaran gerabah Penanggungan sebagian besar di wilayah Jawa Timur. Bisa sampai luar pulau tetapi ditangani oleh pihak yang lain.
Kampung Gerabah Penanggungan berupaya memberikan edukasi kepada pelajar hingga mahasiswa agar kerajinan gerabah tidak hilang dan bisa tetap lestari. Hal ini yang menginisiasi berdirinya galeri Lempung Agung pada tahun 2021 dengan tujuan agar masyarakat penanggungan dapat berkegiatan. Letak galeri yang di pinggir Sungai Brantas sebagai bentuk pelestarian, agar masyarakat akan lebih memiliki kesadaran agar tidak membuang sampah di pinggiran Sungai Brantas. Tidak hanya, dahulu sungai brantas memiliki kandungan pasir yang sangat bagus untuk campuran pembuatan gerabah. Selain itu juga menjadi tempat untuk masyarakat luar yang ingin mengenal gerabah, terutama anak muda.
Referensi
Wawancara dan Dokumentasi Asli
Koreksi Kami
Temukan informasi yang perlu diperbaiki? Kirim masukan kepada arsiparis.
