Cobek Batu Singosari
Deskripsi
Cobek batu Singosari merupakan sebuah alat tradisional yang terbuat dari batu digunakan untuk menghaluskan bahan makanan. Cobek batu Singosari memiliki ciri khas berwarna hitam, tekstrur batunya sedikit kasar dan tajam, memiliki pori-pori serta memiliki ketahanan yang lebih kuat dibandingkan dengan cobek batu di daerah lain. Hal ini dikarenakan jenis batu yang digunakan untuk membuat cobek batu Singosari adalah batu candi yang diperoleh dari tambang batu di Desa Toyomarto.
Sejarah munculnya cobek batu Singosari diawali dari Buyut Pahing yang merupakan pendatang dari Kecamatan Ngantang yang menetap di Dusun Petung Wulung, Singosari sekitar tahun 1915 pada masa penjajahan Belanda. Berbekal keahlian membelah batu kemudian dikembangkan dengan membuat ubin untuk lantai pesanan dari orang Cina yang digunakan sebagai alas untuk babi . Selain itu, Buyut Pahing mengembangkan dengan membuat gilingan berbentuk lingkaran untuk menggiling jagung. Kemudian dikembangkan dengan membuat lumpang berukuran antara 40–50 cm dan duplak. atau lumpang kecil, dan selanjutnya pembuatan cobek.
Keahlian Buyut Pahing dalam membelah batu diajarkan kepada anak cucu yang ada di Dusun Petung Wulung. Sehingga pada tahun 1980, sekitar 60% warga Dusun Petung Wulung berprofesi sebagai pengrajin cobek. Saat ini sudah memasuki generasi ke-4. Penyebaran cobek batu Singosari paling banyak di wilayah Jawa Timur dan Bali. (Hartono)
Peralatan yang digunakan dalam pembuatan cobek batu Singosari menggunakan peralatan tradisional. Peralatan yang digunakan untuk membuat cobek batu Singosari terdiri dari: (1) runcing atau penancal, (2) tatah untuk menghaluskan cobek, (3) as mobil untuk membelah batu besar, (4) paju untuk melubangi (5) pethil atau palu kecil (6) amer atau palu yang besar. Penggunaan peralatan tradisional masih diterapkan sampai saat ini, tetapi juga menggunakan bantuan alat penghalus dari dinamo yang dirancang warga Dusun Petung Wulung.
Proses pembuatan diawali dari pembelahan batu sesuai ukuran 40 cm, 30 cm dan 25 cm. Kemudian, sisa batu dibelahi lagi untuk dijadikan uleg-uleg. Dibentuk setengah jadi, dibulatkan, lalu dihaluskan dengan mesin dinamo. Koreksi dilakukan setelah penghalusan, apabila ada yang lubangnya terlalu besar, maka ditambal menggunakan semen.
Nilai-nilai filosofi erat kaitannya dengan cerita leluhur pada peninggalan batu-batu dan patung Dwarapala. Disisi lain menggunakan cobek menjadi salah satu upaya untuk menjaga kearifan lokal. Bagi pengrajin cobek batu Singosari dapat menjadi sarana menjaga kebugaran jasmani, hal tersebut dikarenakan selama proses pembuatan memerlukan gerak dan tenaga.
Referensi
Wawancara dan Dokumen asli
Koreksi Kami
Temukan informasi yang perlu diperbaiki? Kirim masukan kepada arsiparis.
